Yogyakarta, 8-9 April 2026 — Indonesian Cage-Free Association (ICFA) menyelenggarakan kegiatan Multi-Stakeholder Training: Penguatan Sistem Cage-Free dan Peran Industri Pendukung pada 8–9 April 2026 di Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh 23 peserta yang merupakan perwakilan dari berbagai sektor industri pendukung, termasuk pakan, obat dan kesehatan unggas, pullet & breeding, serta sarana dan peralatan kandang. Pelatihan ini dirancang sebagai ruang kolaboratif lintas sektor untuk memperkuat pemahaman mengenai sistem produksi telur cage-free, sekaligus mendorong peran aktif industri pendukung dalam menciptakan ekosistem yang lebih siap, terintegrasi, dan berkelanjutan di Indonesia.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai perusahaan nasional dan internasional, di antaranya sektor obat dan kesehatan unggas seperti Cita Indonesia Group, PT ITPSA Nutritional Solutions, PT Agrinusa Jaya Santosa, Nutricell Pacific, PT Ceva Animal Health Indonesia, dan PT Biotek Saranatama; sektor pakan seperti PT New Hope Indonesia, Anpario PLC, PT Farmsco Feed Indonesia, dan PT Haida Agriculture Indonesia; sektor sarana dan peralatan kandang seperti PT Unigro Artha Persada, Big Herdsman, dan PT Big Dutchman Agriculture Indonesia; serta sektor pullet & breeding seperti PT Sapta Karya Megah, Hy-Line International, dan CV Tambak Muda Farm.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang mencakup sesi pemaparan materi, diskusi interaktif, serta observasi lapangan langsung ke peternakan cage-free dan free-range. Pendekatan ini memberikan gambaran langsung mengenai kondisi di lapangan, termasuk perbedaan sistem cage-free dan konvensional dari aspek manajemen, kesejahteraan hewan, performa produksi, termasuk tantangan di tingkat peternak.

Meskipun tren peternakan cage-free di Indonesia terus berkembang, masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi oleh para peternak anggota ICFA di lapangan, seperti pengelolaan uniformity pada fase pullet/pre-laying, pengendalian penyakit, serta stabilitas produksi. Namun demikian, melalui dukungan teknis dari ICFA dan berbagai upaya yang dilakukan oleh peternak, seperti perbaikan desain dan fasilitas kandang, penerapan manajemen pakan dan litter yang lebih baik, serta peningkatan praktik operasional, sebagian peternak telah berhasil mengatasi tantangan tersebut dan mencapai tingkat produktivitas yang baik, bahkan hingga mencapai 90%.
Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam pelatihan ini, diharapkan para peternak dapat memperoleh dukungan yang lebih komprehensif, sehingga pengelolaan peternakan cage-free dapat semakin optimal.
Kegiatan ini juga menegaskan bahwa transisi menuju sistem cage-free tidak hanya bergantung pada peran peternak, tetapi memerlukan dukungan aktif dari seluruh rantai pasok. Melalui diskusi lintas sektor, para peserta diajak untuk mengidentifikasi peluang inovasi serta kontribusi konkret yang dapat diberikan oleh masing-masing pihak dalam mendukung penerapan sistem cage-free yang berkelanjutan dan sejalan dengan prinsip kesejahteraan hewan.

ICFA berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan industri perunggasan di Indonesia. Dengan sinergi yang kuat, pengembangan sistem cage-free diharapkan dapat berjalan lebih adaptif, berkelanjutan, serta memberikan dampak positif bagi peternak, industri, dan kesejahteraan hewan.




